Monday, September 24, 2018

Saya Depresi,Takut Masa Depan Dan Merasa Kesepian Di Tengah Keramaian

Posted by Mr sumari at September 24, 2018 0 Comments
Takut Masa Depan dan Merasa Kesepian di Tengah Keramaian Saya Depresi,Takut Masa Depan dan Merasa Kesepian di Tengah Keramaian

Saat masih remaja, saya pernah depresi. Saya gres mengetahui bahwa apa yang saya alami tersebut yaitu depresi ketika saya sudah mulai stabil. Sudah beberapa tahun semenjak insiden itu, namun hingga kini saya seringkali berhadapan dengan situasi internal diri saya yang saya tidak pahami dan sulit untuk dijelaskan.

Saat bangkit tidur saya kerap merasa kosong. Saya ingin marah-marah, tapi saya termasuk tipe orang yang tidak sanggup murka secara verbal. Kaprikornus kemarahan tersebut ibarat menumpuk di kepala saya. Saya selalu berteriak dalam pikiran saya. Sulit digambarkan, yang niscaya rasanya sangat tidak enak.

Untuk menyingkirkan perasaan2 tidak lezat tersebut saya selalu tidur, tidak peduli tubuh sepegal apapun tubuh sy (karena tidur terlalu bnyk), jikalau hal itu kembali menyerang saya, saya akan kembali tidur.

Saya menduga-duga bahwa saya mungkin kena depresi lagi, atau yang pernah saya baca distimia. Karena sintomnya mirip, saya masih sanggup berfungsi walaupun diliputi perasaan2 sialan ibarat ini.

Dilain sisi saya juga menyangkal hal tersebut. Saya merasa perkiraan saya diatas hanya merupakan pembenaran dari kelemahan-kelemahan diri saya. Saya menganggap bahwa jikalau saya kena gangguan jiwa itu merupakan pemaafan atas semua kelemahan2 saya.

Dan saya menentukan mempercayai yang kedua. Walaupun saya tahu bahwa depresi itu ganggan di otak, saya tidak punya alasan yang cukup berpengaruh untuk mengalami depresi. Saya merasa semua ini hanya duduk perkara daya tahan saya dalam menyikapi stres yang tiba dari luar.

Sy merasa malu, kesal, dan bener2 kecewa dengan diri saya yang lemah. Apa duduk perkara saya? Saya tidak pernah sanggup kekerasan, uang selalu cukup, walau tidak sanggup dikatakan sehat 100% saya termasuk orang yang jarang sakit, satu-satunya duduk perkara yaitu diri saya sendiri.

Saya merasa tidak berdaya, saya takut suatu duduk perkara besar akan menimpa saya dan bajingan ibarat saya hanya sanggup meringkuk ketakutan. Hal itu yang menciptakan saya membenci ide-ide perihal masa depan dan menghindari janji (saya sudah merencanakan untuk tidak menikah).

Saya mempunyai teman-teman, tapi saya selalu merasa kesepian. Saya ingin bercerita, tapi saya takut. Saya terlalu takut mereka tidak sanggup memahami perasaan saya dan berkata hal2 yang pada jadinya menciptakan saya kecewa. Lihat? Egois sekali bukan saya ini? Menuntut terlalu banyak.

Saya kerap memikirkan bunuh diri, ya, saya juga ingin tau bagaimana rasanya mati. Tapi pengecut ibarat saya tidak akan sanggup melalukannya. Saya pernah mencoba menyilet diri saya dengan pisau cutter, dan kalain tau? Saya bahkan gabisa menciptakan kulit saya berdarah!

Saya benar-benar tidak tahan dengan diri saya. Saya ingin di install ulang, dan menjadi diri yang baru. Saya pernah berpikir untuk tiba ke psikolog tapi saya terlalu aib u/ membuka semua kelemahan2 saya. Saya hanya ingin diresepkan obat.

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Sahabat sehat.
Powered by Themes24x7 .
back to top