Tuesday, September 25, 2018
Motivasi Penderita Asam Lambung Lapang Dada & Berdamai Dengan Diri Sendiri
Posted by Mr sumari at September 25, 2018
0 Comments
Maaf jikalau saya sedikit nyerocos di sini (lagi), ijinkan saya membuatkan ilmu dan tips dari kawanku dengan kalian. Mungkin sanggup membantu sedikit. Tentang apa yang sedang kalian rasakan. Yang selama ini mungkin saya gak tahu dengan niscaya dan jelas.
Cekidot...
Semua tanda-tanda fisik (sakit kepala, tubuh panas, demam, asam lambung) maupun bentuk-bentuk pikiran/ingatan jelek yang timbul terus-menerus itu sebetulnya cara otak kita memberi tahu jikalau daya tampungnya sudah ga memungkinkan untuk menumpuk masalah/emosi negatif.
Perlu ada yang diselesaikan, melalui pemecahan duduk kasus yang praktis/perilaku, atau pemecahan dengan cara mengevaluasi pedoman dan perasaannya selama ini. Artinya, memang perlu ketemu sama orang-orang yang tepat. Kalau ngga, takutnya nanti sembuhnya semakin usang atau sanggup jadi semakin parah dan memicu timbulnya gangguan mental yang lain.
Untuk penanganan pertama, saya lebih merekomendasikan bundar sosial yang terdekat dengan kau terlebih dulu, dari pada pribadi ke psikolog/hipnoterapis. Karena mengingat biaya dan aksesnya yang ga segampang dokter umum, sebab sebetulnya, mau kemanapun seseorang mencari bantuan, yang akan memilih cepat atau lambatnya proses pemulihan itu yaitu dirinya sendiri.
Kesadarannya, potensi-potensi yang beliau miliki, baik secara intelektual, emosional maupun spiritual.
Makara jikalau pada dasarnya, kita cukup cerdas, masalahnya sanggup kita selesaikan dengan hanya melibatkan Allah tentunya, pengetahuan-pengatahuan dari buku atau orang-orang terdekat yang di percaya.
Atau dengan mencari grup-grup yang berisikan orang-orang dengan permasalahn serupa. Biasanya mereka saling membuatkan beban, pengalaman, dan tips-tips yang bermanfaat.
Dan juga tentunya jadi ngerasa gak sendirian.
Dan untuk beberapa mitra di sini yang mungkin mempunyai trauma. Obyek traumanya terhadap apa? Dan untuk anxiety (kecemasan berlebih akan suatu hal) gitu memang butuh waktu pemulihan yang ga sebentar.
Bisa cuma sebulan,beberapa bulan atau tahunan, tergantung dari individunya. (pola pikir, contoh hidup, contoh makan, contoh sosialisasi).
Dengan usaha, bukan cuma membaca buku yang membantu kita untuk mengetahui tanda-tanda yang kita alami, tapi mengubah contoh pikir/cara pandang terhadap hidup atau orang lain.
Terus banyak mengkonsumsi makanan kaya akan nutrisi bagi otak (ikan, minyak ikan, kunyit, madu + daun pegagan, vitamin b12, dll) dan yang terpenting, bersosialisasi, cari teman-teman/keluarga/terapis yang sanggup di percaya untuk diajak bercerita tanpa ngasih penghakiman. Itu jujur ngaruh banget.
Tapi ada satu lagi ilmu yang paling penting, ikhlas. Kalau udah nrimo menjalani penyakit dengan terus menyerahkan diri kepada Allah, itu beneran deh lama-lama jadi mulai tenang, ga banyak menuntut apa-apa yang menambah beban pikiran.
Ini menurutku sangat perlu untuk diperhatikan sih. Yang mendorong proses pemulihan menjadi lebih cepat itu justru sebab berani cerita, berani mengungkapkan kerapuhan yang di alami, tentunya kepada orang-orang yang dipercaya.
Kalau kita sanggup dongeng tanpa rasa malu, takut khawatir dicela. Disitu kita sebetulnya sedang berproses mendapatkan diri kita sendiri, pada dikala kita sanggup mendapatkan diri kita secara utuh, kita mulai sanggup berdamai dengan pertarungan/konflik yang ada di dalam diri.
Karena rasa sakit dari stress berat itu kan mengindikasikan bahwa kita merasa belum mendapatkan atau masih menolak apa yang menjadi belahan dari diri dan hidup kita.
Kalau banyak berdiam diri, beliau (penyakitnya) malah semakin punya banyak daerah di ruang-ruang kesadaran untuk menjadi liar. Tapi, semakin kau sibuk, ruang beliau semakin sempit untuk berkeliaran, dan lama-lama juga jinak.
Dia (penyakit itu) tuh suka berubah-ubah. Beberapa hari ini kesel sama orang lain sebab kurang sanggup memahami kita. Tapi nanti objeknya berubah lagi. Jadi, beliau keluarnya tergantung dari pemicu dari luar. Ada yang ga lezat sedikit pribadi muncul.
Kalau lagi bener-bener down banget, dunia tuh serasa jahat. Dan lebih nyaman sendiri. Dengan sedikit berkomunikasi pada orang tertentu yang sama dengan kita itu membantu banget.
Karena akan lebih mudah terhubung dan saling memahami.
Tapi jikalau sudah sembuh nanti akan jadi mudah pembiasaan lagi kok sama semuanya.
Temen-teman yang kelihatannya ga peduli, mereka ga pernah mengalami jadi niscaya mereka galau dan menganggap remeh. Kita juga harus ngerti. Atau mereka juga lagi ada duduk kasus risikonya mereka fokus sama diri sendiri dulu. Dinikmati dulu prosesnya.
Semakin kau ingin bebas dari pikiran tersebut, semakin berpengaruh beliau mencengkram.
Pokoknya jangan pernah berusaha keras atau berniat untuk lari dari penyakit ini.
Karena semakin kau ingin bebas = kau semakin emosi = emosi negatifmu semakin meningkat.
Penyakit ini nempel sama emosi. Makara perhatikan emosi mu dulu, kuasai emosi mu, terima beliau dengan sukarela sebagai sobat belajar.
Ikhlaskan ia sebagai belahan hidupmu. Kamu niscaya sembuh!
Dibaca ya baik-baik dan pahami. semangat!
Tags: Asam Lambung
Labels
- Aktifitas
- Anak
- Anti Sosial
- Anxiety
- Asam Lambung
- Autisme
- Bipolar
- Broken Home
- Curhat (Curahan Hati)
- Depresi
- Diabetes
- Fobia Sosial
- Gangguan Jiwa
- Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder)
- Gastro Esophageal Reflux Disease
- GERD
- Hipokondria
- Indigo
- Insomnia
- Introvert
- Kekerasan Dalam Rumah Tangga
- lainnya
- Lifestyle
- Makanan
- Motivasi
- Olahraga
- Panic Attack (Serangan Panic)
- Parenting's
- Pengetahuan Kesehatan
- Penyakit
- Penyakit Jiwa
- Phobia
- Psikologi
- Psikosomatik
- Skizofrenia
- Social Phobia
- Stress
- Wanita
Blogroll
Comments
-
Bagaimana Pengaruh Samping Saya Putus Alprazolam 0.5 Mg Jangka Panjang?
-
Cerita Pengalaman Penderita Gerd Yang Sembuh Total Dari Asam Lambung
-
Aku Benci Tidak Menerima / Dianggap Pada Kiprah Kelompok Di Sekolah
-
Pengalaman Hipokondria Aku Selalu Khawatir Mengira-Gira Penyakit
-
Ciri-Ciri Akan Sembuh Dari Gerd Menurut Pengalaman Aku Pribadi
-
Cara Mengatasi Gerd Yang Menyiksa Tanpa Obat Ialah Dengan Pasrah
-
Testimoni Sembuh Dari Psikosomatis
-
27 Makanan Sehat Untuk Ibu Hamil (Serta Tips Pentingnya)
-
Ketika Wanita Introvert Jatuh Cinta & Susah Sanggup Jodoh
-
Kisah Penderita Bipolar Disorder Benci (Jijik) Akrab Dengan Orang Lain
Popular Posts
- Aktifitas
- Anak
- Anti Sosial
- Anxiety
- Asam Lambung
- Autisme
- Bipolar
- Broken Home
- Curhat (Curahan Hati)
- Depresi
- Diabetes
- Fobia Sosial
- Gangguan Jiwa
- Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder)
- Gastro Esophageal Reflux Disease
- GERD
- Hipokondria
- Indigo
- Insomnia
- Introvert
- Kekerasan Dalam Rumah Tangga
- lainnya
- Lifestyle
- Makanan
- Motivasi
- Olahraga
- Panic Attack (Serangan Panic)
- Parenting's
- Pengetahuan Kesehatan
- Penyakit
- Penyakit Jiwa
- Phobia
- Psikologi
- Psikosomatik
- Skizofrenia
- Social Phobia
- Stress
- Wanita
Labels
Categories
- Aktifitas
- Anak
- Anti Sosial
- Anxiety
- Asam Lambung
- Autisme
- Bipolar
- Broken Home
- Curhat (Curahan Hati)
- Depresi
- Diabetes
- Fobia Sosial
- Gangguan Jiwa
- Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder)
- Gastro Esophageal Reflux Disease
- GERD
- Hipokondria
- Indigo
- Insomnia
- Introvert
- Kekerasan Dalam Rumah Tangga
- lainnya
- Lifestyle
- Makanan
- Motivasi
- Olahraga
- Panic Attack (Serangan Panic)
- Parenting's
- Pengetahuan Kesehatan
- Penyakit
- Penyakit Jiwa
- Phobia
- Psikologi
- Psikosomatik
- Skizofrenia
- Social Phobia
- Stress
- Wanita
Advertisement
Labels
- Aktifitas
- Anak
- Anti Sosial
- Anxiety
- Asam Lambung
- Autisme
- Bipolar
- Broken Home
- Curhat (Curahan Hati)
- Depresi
- Diabetes
- Fobia Sosial
- Gangguan Jiwa
- Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder)
- Gastro Esophageal Reflux Disease
- GERD
- Hipokondria
- Indigo
- Insomnia
- Introvert
- Kekerasan Dalam Rumah Tangga
- lainnya
- Lifestyle
- Makanan
- Motivasi
- Olahraga
- Panic Attack (Serangan Panic)
- Parenting's
- Pengetahuan Kesehatan
- Penyakit
- Penyakit Jiwa
- Phobia
- Psikologi
- Psikosomatik
- Skizofrenia
- Social Phobia
- Stress
- Wanita

Facebook
Twitter
Google+
Rss Feed
0 comments: