Tuesday, September 25, 2018

Aku Punya Orang Bau Tanah (Ibu) Yang Durhaka Kekerasan Lisan Terhadap Anak

Posted by Mr sumari at September 25, 2018 0 Comments

 yang Durhaka Kekerasan Verbal terhadap Anak Aku Punya Orang Tua (Ibu) yang Durhaka Kekerasan Verbal terhadap Anak

Sebelumnya, mohon maaf kepada para pembaca, kalau pengalaman saya ini tidak nyaman.

Aku lahir di keluarga yang kacau. Orang renta saya uring-uringan.

Saya dari kecil mencukupi kebutuhan sendiri dari beli hp, mainan, laptop, motor, gitar, baju perlengkapan kuliah, dan lain sebagainya, saya cowo.

Baju yang saya miliki sanggup diitung, bahkan hingga celana saya bolong2, dan baju saya pun sobek2. Hal ini mempengaruhi kesehatan mental jiwa saya, sehingga saya menjadi pemalu dan gak pede. Padahal teman2 saya bajunya bagus2.

Saat kuliah pun saya hanya memiliki 3 baju yang kerahnya masing2 sudah sobek. Celana saya hingga tipis, celana dalam saya hingga sobek2, bahkan pernah dibully sahabat saya dikira gak pakai celana dalam. Hati saya menangis.

Sampai kini baju saya sanggup dihitung, saya harus sering mencuci baju lantaran jumlah baju saya sedikit, itulah sebabnya ketika disuruh mengantar kemanapun saya tidak mau, hingga emosi saya meledak saya katakan bahwa saya tidak punya baju.

Malah apa yang terjadi, Ibu saya semakin marah, bahkan kata2nya menjadi semakin menyakitnya. Entah kenapa saya dibedakan dengan adik saya, adik saya cewe sudah menikah, kalau kesini di baik2in, di senyum2in. Bahkan menantunya pun begitu , saya yang anaknya tidak pernah diajak bercanda, bahkan tersenyum tidak pernah.

Wajahnya menyerupai monster, matanya melotot. bahwasanya saya tidak tega menulis begini. Tapi hati saya terlanjur sakit.

Di rumah, Ibu selalu menuntut apa yang diinginkannya, tanpa menunjukkan hak kepada anak. Membanding-bandingkan dengan anak orang lain, padahal anak orang lain diberikan kemudahan yang layak, diberikan pupuk kasih sayang, makanan yang cukup, sandang pangan, mereka di support orang tuanya.

Saya yang diberi racun, kekerasan verbal, lisan Ibu saya benar2 tajam, menyerupai silet, setiap hari melukai hati saya, luka batin ini tak akan pernah hilang seumur hidupku.

Setiap hari saya dibully, disindir2 dengan bunyi keras, memekakkan telinga, hati saya teriris, pengen nangis tapi saya dilarang menampakkan hal tersebut di depannya.

Setiap hari selalu begitu, bahkan kejelekan yang belum tentu ada pada diri saya di sebar2kan ke tetangga, saudara-saudara. Mereka yang belum kenal saya jadi memiliki persepsi yang buruk perihal diri saya, padahal saya tidak pernah bertemu pribadi dengan mereka.

Akibatnya saya jadi canggung, tidak sanggup bergaul lantaran persepsi yang dibuat oleh orang renta saya ke  mereka sudah terlanjur menyebar kemasyarakat dan saudara.

Sayapun memiliki gangguan makan, saya tidak sanggup makan di depan orang, lantaran di rumah saya terbiasa dibentak ketika makan, sehingga mengakibatkan stress berat pada diri saya, jantung saya berdegub kencang ketika makan, dan mual, nafsu makan saya hilang.

Hal itu menciptakan saya tidak sanggup bersosialisasi. Karena setiap kumpul2 niscaya ada program makan2,, saya mual kalau mendengar kata makan-makan.

Mental saya menjadi lemah, gampang dendam, gampang baper, lantaran emosi yang tidak pernah saya ungkapkan , saya tidak punya teman, tidak punya siapa-siapa. Saya sebatang kara. saya juga anxiety, gampang panic.

Keluarga kami dijauhi  oleh tante-tante dan om kami, kami dimusuhi, saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Tapi saya rasa lantaran perilaku Ibu saya lah yang tidak waras.

Pernah nenek saya dulu minggat dari rumah saya , ke rumah tante saya lantaran ulah Ibu saya yang mulutnya menyakitkan. Kata-katanya tajam.

Saya mau kabur (minggat) dari rumah tapi tidak tahu kemana, saya belum sanggup mandiri, masih menyerupai kekanak-kanakan padahal umur saya 30 th. Bahkan terlintas bunuh diri, tapi saya tahu itu salah dan bertentangan dengan agama yang saya percayai.

Saat ini saya menjalani pekerjaan sebagai tukang ketik, saya mengumpulkan uang untuk bekal kabur dari rumah.

Saya kesepakatan tidak akan kembali ke rumah ini lagi, bahkan jikapun orang renta saya meninggal saya tidak akan datang. Saya tidak dendam, saya sudah memaafkan mereka, tapi luka batin ini akan ada seumur hidupku.

Dari kecil saya tidak sanggup membawa sahabat saya main ke rumah, itu juga yang menciptakan saya tidak memiliki sahabat lantaran ketika mereka ingin ke rumah , saya selalu melarangnya, tidak lain dan tidak bukan yaitu lantaran ibu saya menyerupai monster, saya tidak sanggup membiarkan sahabat saya disakiti. Ketakutan saya kalau sahabat saya tiba2 dibentak dan itu memalukan.

Pernah ketika saya main, anak kecil lumrah main sepedaan , main di sungai, main dingdong, sahabat saya malah dimarahi, sayapun begitu, sehingga sahabat saya tidak mau lagi mengajak saya bermain.

Setiap apa yang saya lakukan, orang renta saya entah Ibu atau Ayah selalu meremehkan, mereka underestimate terhadap apa yang saya lakukan. padahal sebagai orang renta seharusnya mereka support apa yang menjadi passion saya.

Apa yang saya lakukan selalu salah dimata mereka.

Mereka (Ibu & Ayah) orang tuaku merasa paling benar, padahal jikapun mereka salah sekalipun, saya tidak memiliki kesempatan untuk ngomong, untuk menunjukkan penjelasan, selalu bentakan yang ada, bahkan ketika saya mencoba untuk menjelaskan sesuatu nada bentakan Ibu saya semakin tinggi.

Tidak jarang, kepala saya tiba2 di tonyok pakai jari dari belakang. menciptakan saya kagetan kalau Ibu saya lewat di samping saya.

SAYA mustahil pergi dari rumah tanpa persiapan, saya harus memilih tujuan yang jelas, tidur dimana, kerja apa, dan yang penting yaitu kawasan tinggal. Sebenarnya sanggup tinggal di kost2an tapi saya rasa tidak ada privasi, lantaran pekerjaan saya online, lebih banyak di dalam kamar, jadi takutnya ntar dikira aneh2 oleh masyarakat.

Suatu ketika saya akan membeli rumah, untuk pergi dari rumah yang menyerupai neraka ini.

Banyak yang harus saya ceritakan, hingga saya lupa lantaran terlalu banyak dan seringnya perlakukan berangasan Ibu saya setiap hari, kalau saya mengingatnya saya sanggup gila. Sehingga beberapa kata2 nya tidak saya ingat. habis masuk kuping kanan keluar lewat kuping kiri. Tapi kadang dada saya terasa sesak. Badan saya juga kurus, lantaran hal itu.

Saya dari Kota Kudus, kalau ada sahabat yang senasib, bolehlah menghubungi saya di kotak hubungi kami. Siapa tahu kita sanggup share dan hati menjadi lebih plonk, atau kita sanggup hidup bersama dan menikah kalau kau perempuan. Kita membangun hidup baru.

Saya akan mendapatkan siapapun kalian. Kita senasib.

Maafkan saya Ibu & Ayah.

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Sahabat sehat.
Powered by Themes24x7 .
back to top